Ahmad Sidiq, M.Pd. Berikan Motivasi pada Jum'at Kubro Inspiratif (JKI)


Banner Post

Kegiatan Jum’at Kubro Inspiratif (JKI) di SMA Babussalam Pekanbaru 31 Juli 2026 menjadi panggung penting bagi hadirnya motivasi yang menyentuh hati dari seorang guru yang dikenal rendah hati dan visioner: Ahmad Sidiq, M.Pd., guru Biologi SMA Babussalam Pekanbaru. Bertepatan dengan 16 Shafar 1448 Hijriah, suasana pagi di kampus hijau SMA Babussalam dipenuhi lantunan ayat suci, kepedulian, dan pesan mendalam tentang makna menjadi manusia yang berguna bagi sesama. 

Suasana JKI yang Penuh Keberkahan  

Sejak pagi, para santri putra dan putri berkumpul dengan tertib di area kegiatan. JKI kali ini disusun dengan rangkaian acara yang sarat nilai ruhiyah dan sosial:  

- Pembacaan surat Al-Kahfi 10 ayat pertama dan 10 ayat terakhir yang menguatkan iman dan daya tahan hati di tengah derasnya ujian zaman.  

- Ceramah agama dari perwakilan santri putra dan putri, menjadi wadah latihan kepemimpinan, keberanian berbicara, dan kedalaman berpikir di hadapan khalayak ramai.  

- Infaq Jum’at yang mengasah kepekaan sosial, menumbuhkan kebiasaan berbagi sejak dini, dan melatih santri untuk tidak hanya kaya ilmu, tetapi juga kaya empati


Rangkaian tersebut menegaskan karakter JKI sebagai program yang bukan sekadar rutinitas, tetapi ikhtiar terencana untuk membentuk generasi berakhlak, berilmu, dan peduli.

Pesan Mendalam Ahmad Sidiq, M.Pd.  

Puncak acara terjadi ketika Ahmad Sidiq, M.Pd. menyampaikan motivasi sekaligus pencerahan kepada seluruh peserta. Dengan gaya tutur yang tenang namun mengena, beliau mengajak para santri merenung tentang satu hal penting: menjadi manusia yang berguna bagi orang banyak.

Beliau mengilustrasikan kehidupan manusia melalui sosok sebatang pohon. Pohon yang awalnya kecil, perlahan tumbuh, menguat, dan akhirnya berbuah. Semakin besar pohon itu, semakin banyak manfaat yang diberikannya:  

- Memberikan kerindangan bagi siapa saja yang berteduh di bawahnya.  

- Menghasilkan oksigen yang menyejukkan dan menopang kehidupan.  

- Mengeluarkan buah yang dapat dinikmati banyak makhluk, termasuk manusia.

Melalui ilustrasi tersebut, Ahmad Sidiq mengajak para santri bercermin: sudahkah diri kita tumbuh menjadi “pohon kehidupan” yang menghadirkan manfaat, bukan sekadar indah dilihat namun hampa kontribusi?

Jangan Jadi Lilin yang Terbakar Sendiri  

Dalam bagian lain motivasinya, beliau menyampaikan analogi yang menggugah: jangan menjadi seperti lilin yang hanya mampu memberi cahaya untuk orang lain, tetapi dirinya habis terbakar tanpa arah. Lilin memang bermanfaat, namun ia mengorbankan dirinya tanpa mendapat keluhuran makna selain habis tanpa sisa.

Beliau menekankan bahwa insan beriman dan berilmu semestinya mampu mengambil peran seperti pohon: bermanfaat bagi lingkungan, sesama, dan dirinya sendiri. Manusia yang matang bukan hanya menjadi penolong, tetapi juga menjaga dirinya agar tetap kuat, sehat, dan berdaya untuk terus menebar kebaikan.

Pesan ini menjadi pengingat halus bagi para santri agar tidak sekadar sibuk “menyenangkan orang lain”, namun lupa membangun karakter, kompetensi, dan kedekatan dengan Allah sebagai sumber kekuatan sejati.


JKI sebagai Media Pembentukan Karakter  

Jum’at Kubro Inspiratif (JKI) di SMA Babussalam Pekanbaru kembali terbukti bukan hanya agenda seremonial, melainkan sarana pembentukan karakter yang menyentuh aspek ruhiyah, akhlak, dan intelektual. Melalui tilawah Al-Kahfi, ceramah para santri, infaq Jum’at, dan motivasi dari guru, para peserta belajar bahwa:  

- Ilmu tanpa manfaat adalah kehilangan makna.  

- Ibadah tanpa kepedulian sosial belum menghadirkan keseimbangan.  

- Semangat muda tanpa arah hidup yang jelas mudah padam di tengah tantangan zaman.

Kehadiran sosok pendidik seperti Ahmad Sidiq, M.Pd. menjadi teladan bahwa guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi *pembimbing kehidupan* yang mengarahkan siswa untuk tumbuh sebagai generasi yang kokoh, teduh, dan berbuah bagi umat.

Di bawah langit Pekanbaru pada Jum’at penuh berkah itu, JKI menorehkan satu pesan kuat dalam hati para santri: jadilah manusia yang bermanfaat seluas-luasnya, setegar pohon, seteduh rindangannya, dan semanis buahnya — untuk diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat, dan agama (*)